Amerika Serikat - INGATKEMBALIcom: Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin, baru saja mencatatkan rekor baru dalam sejarah "belanja paling nekat" di akhir Maret 2026. Beliau dengan gagah melangkah ke Kongres untuk mengajukan anggaran tambahan sebesar US$200 Miliar atau setara dengan Rp3.394 Triliun. Sebuah angka yang cukup untuk membeli seluruh gorengan di Asia Tenggara, namun di tangan Pentagon, uang ini hanya cukup untuk bertahan hidup selama 145 hari di langit Iran.
Ini bukan sekadar angka, ini adalah pengakuan dosa bahwa perang modern melawan Iran ternyata lebih menguras kantong daripada biaya cicilan satu negara.
Mengapa harganya semahal itu? Ternyata, sistem pertahanan udara Iran tidak seramah yang dikira. Setelah beberapa unit drone MQ-9 Reaper rontok dan jet tempur F-35 yang harganya selangit itu pulang dengan kondisi "penyok" akibat rudal lawan, Pentagon sadar bahwa mereka butuh amunisi yang lebih banyak dan lebih mahal.
Menembus puluhan triliun rupiah (setara harga ribuan unit mobil mewah yang dibakar tiap matahari terbit).
Membeli rudal pencegat baru, servis rutin jet tempur yang trauma kena rudal, dan mobilisasi logistik yang besarnya minta ampun.
Menjaga agar dominasi Paman Sam di Teluk tidak tenggelam oleh presisi pertahanan Teheran.
Di Washington, pengajuan anggaran ini memicu perdebatan yang lebih panas daripada mesin jet tempur. Para politisi mulai pusing tujuh keliling melihat beban ekonomi domestik yang sedang megap-megap, sementara Menhan Austin tetap bersikukuh bahwa tanpa Rp3.300 Triliun ini, posisi tawar militer AS akan selembut bubur sumsum di hadapan Iran.
Gedung Putih menegaskan: "Ini bukan soal uang, ini soal harga diri!" Meskipun harga diri tersebut harus dibayar dengan anggaran perang tercepat dan terbesar dalam sejarah umat manusia.(Na/By/Sa/Ar/Na)
copyright©INGATKEMBALIcom 2026
