Home » » Menko Luhut: Alasan Indonesia Gunakan Buruh Kasar China

Menko Luhut: Alasan Indonesia Gunakan Buruh Kasar China

Written By Ingat Kembali on Sabtu, 24 Agustus 2019 | 10.00

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan

"Setelah itu (proyek selesai) mereka (buruh China) pulang. Baru setelah itu orang Indonesia yang meneruskan," Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan

Jakarta (INGATKEMBALICOM) - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan buka-bukaan soal kehadiran buruh kasar China di Indonesia. Ia menegaskan kehadiran tenaga kerja asal negeri tirai bambu itu hanya sementara, setidaknya sampai konstruksi proyek yang dikerjakan di Indonesia rampung.

"Pada waktu pembangunan, memang mereka (buruh China), lebih hebat dari kita (Indonesia)," ujar Luhut Dikutup CNNIndonesia.com, Sabtu 24 Agustus 2019.

Luhut mencontohkan, di kawasan industri Morowali, buruh China bisa membangun proyek pembangkit listrik hanya dalam tempo 18 bulan atau lebih cepat dari rata-rata pengerjaan orang Indonesia yang mencapai 24 bulan.

Selain itu, kehadiran buruh China juga tak lepas dari ketersediaan tenaga kerja dengan keahlian yang sesuai yang terbatas, terutama di luar Indonesia. 

"Misalnya, di Morowali, mencari insinyur 1.000 orang mana bisa," ucapnya.

Kemudian, dalam periode konstruksi, beberapa instruksi teknis juga ditulis dengan bahasa Mandarin sehingga akan memakan waktu jika harus mengajari orang Indonesia dahulu. 

Di saat yang sama, perusahaan China juga melatih tenaga lokal untuk bisa melanjutkan. Salah satu caranya adalah dengan membangun politeknik seperti yang dilakukan di Morowali. 

"Setelah itu (proyek selesai) mereka (buruh China) pulang. Baru setelah itu orang Indonesia yang meneruskan," tuturnya.

Luhut mengingatkan pemerintah menerapkan empat syarat bagi investor asing yang hendak menanamkan modalnya di Indonesia. 

Pertama, investor harus membawa teknologi terbaik dari negara asal. 

Kedua, ketika investor asing sudah membawa teknologi terbaru maka secara perlahan investor asing harus melakukan transfer teknologi kepada pekerja Indonesia.

Ketiga, investasi tersebut harus mempekerjakan pegawai asal Indonesia sebanyak mungkin.

Terakhir, calon investor harus membangun industri yang bisa memberikan nilai tambah kepada produk Indonesia dengan skema business to business (B2B). Dengan demikian, pemerintah tidak terbebani oleh utang untuk membiayai investasi.

Sebagai informasi, berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, tahun lalu, Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China tercatat 32.209 orang atau 33,7 persen dari total total TKA di Indonesia, 95.335 orang.

Share this post :

Posting Komentar

 
Support : ingatkembali.com Copyright © 2016-2018. Ingat Kembali - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by PT.M2C
Proudly powered by Presiden Online